Skip to main content

Posts

Pemanfaatan Kegiatan Vaksinasi untuk Kepentingan Inteligen oleh CIA di Pakistan

1.                   Kasus Tewasnya Osama bin Laden oleh pasukan khusus Amerika Serikat dalam serangan tahun 2011 di sebuah rumah di Abbotabad menciptakan kontroversi sendiri bagi CIA. Kelompok Taliban menuduh CIA telah melakukan upaya mata-mata terselubung dengan memanfaatkan program vaksinasi Polio yang dilakukan oleh WHO dan UNICEF. Atas dasar tuduhan ini, kelompok Taliban menyerang berbagai tempat vaksinasi massal dan membunuh banyak petugas vaksin di Pakistan. Kegiatan spionase yang dilakukan oleh CIA dengan berkedok vaksinasi telah terbukti dengan ditangkapnya Dr. Shakil Afridi oleh Inter-Services Intelligence Agency (ISI) Pakistan. Lewat Dr. Shakil Afridi yang membagikan vaksin gratis untuk mencegah Hepatitis B di Abbotabad, CIA merencanakan program vaksinasi palsu untuk melacak keberadaan Osama. Vaksin ini untuk mengambil DNA dari anak-anak yang ada di Abbotabad untuk mengetahui kebera...

Samoa Barat

Note : Sebuah tugas dari mata kuliah studi kawasan Pasifik Barat Daya. Alhamdulillah akhirnya mengenal sebuah negara kecil dengan kisahnya yang panjang, Samoa Barat. BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Samoa Barat atau yang sekarang dikenal dengan Independent State of Samoa terletak di kepulauan pasifik selatan. Negara ini terdiri atas 2 pulau utama Upolu dan Sava’I serta 7 pulau kecil yaitu manono, Apolima, Manua, Fanutapu, Nautele, Naulua dan Nunsafee. Ibukota Samoa Barat yaitu Apia terletak di pulau Upolu. Samoa merupakan salah satu negara yang pernah merubah zona waktu nasionalnya, pada akhir 2011 lalu pemerintahnya merubah dari zona waktu internasional dari timur menjadi berpatokan ke barat. Akibatnya penanggalan di Samoa maju satu hari dari negara lainnya. Sebagaimana negara lainnya, terjadi dinamika politik di Samoa barat baik sebelum masuknya eropa maupun pasca kemerdekaan. Samoa Barat pernah diperebutkan oleh 3 negara besar yaitu Amerika, Jerman dan Ingg...

Masalah Pengungsi Bhutan di Nepal

Latar Belakang Pengungsi Bhutan di Nepal Masalah pengungsi di Bhutan adalah masalah yang sangat kompleks. Sejak 1991, sekitar 18% populasi Bhutan meninggalkan negara tersebut (108.000 pengungsi) menuju Nepal dan India. Mayoritas pengungsi tersebut adalah Lhotshampa [1] , populasi Hindu yang merupakan etnis Nepal. Pada pertengahan 1980-an, pemerintah Nepal menyetujui hukum kewarganegaraan yang menciptakan basis legal dengan mendeklarasikan banyak Lhotshampa sebagai “non-nasional”. Diskriminasi yang terjadi antara tahun 1980 hingga akhir 1990 membuat gerakan besar pengungsi Lhotshampa. Sepeninggal pengungsi, pemerintah kemudian mengisinkan warga dari bagian negara lain menduduki tanah mereka, dan Lhotshampa yang kini berada di Nepal mengalami banyak diskriminasi dan kesulitan dalam mengakses pendidikan serta mendapatkan pekerjaan. Nepal tidak menandatangani Konvensi 1951 dan tidak punya aturan pengungsi nasional. Meski begitu pemerintahan Nepal menerima pengungsi Bhutan yang ada...