Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Borneo

Jelajah Borneo 2 : KM Lambelu, Suku Dayak dan Kebun Raya

Jadi di penghujung tahun 2016 akhirnya dapat kesempatan lagi buat berkunjung ke Borneo, lebih tepatnya di Kalimantan Timur. Kali ini aku gak sendirian tapi rame-rame sama keluarga soalnya ada sepupu yang mau nikah (nyesek yang nikah adikku.. hiks). Dan kali ini kita gak naik pesawat tapi naik Kapal laut berjenis Kapal Motor. Kita berangkatnya lewat pelabuhan Parepare naik KM. Lambelu. Karena jadwal keberangkatan kapal jam 7, otomatis kita harus siap-siap jam 5, jadilah di pagi buta yang masih gelap kita sudah harus ada di pelabuhan. Sebenarnya bagus juga sih naik kapal soalnya lebih murah (setengah harga naik pesawat, lumayan kan).

Jelajah Borneo : TnT 6 #roadtosam6oja

Salah satu pengalaman paling berkesan selama di Kaltim adalah saat aku ke Samboja mengikuti kegiatan Travelling and Teaching (TnT) 6 yang diadakan oleh komunitas 1000 Guru Balikpapan. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dari tanggal 26-28 Agustus 2016. Meski di kampus dulu aku cukup aktif di lembaga kemahasiswaan dan sering ikut kegiatan semacam baksos tapi menjadi volunteer dan bergabung dengan sebuah komunitas adalah hal yang baru untukku. Apalagi mengingat aku hanyalah pendatang yang belum mengenal dengan baik orang-orang dan budaya di Kaltim. Tapi ternyata setelah mengikuti kegiatan ini aku mendapatkan teman baru..bahkan keluarga baru yang darinya aku belajar banyak hal. Langsung saja kukisahkan padamu tentang mereka, pengalaman dan pelajaran..

Jelajah Borneo : Pulau Kumala

Yay, Akhirnya bisa ke pulau Kumala. Sebenarnya ini di luar rencana sih soalnya aku tadinya ke Tenggarong buat liat Erau, salah satu adat tahunan dari Kutai Kertanegara. Erau berasal bahasa Kutai eroh yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Dalam pengertian yang paling sederhana, erau atau eroh adalah pesta yang diselenggarakan oleh sekelompok orang dengan berbagai kegiatan yang mempunyai maksud dan mengandung makna, baik bersifat sakral, ritual maupun hiburan.

Jelajah Borneo : Belajar Asmaul Husna di Bontang

Nah penjelajahan terakhir adalah Bontang yang masih merupakan wilayah dari Kukar. Berangkatnya setelah shalat subuh bareng bapak sama Om naik mobilnya Om. Suka banget pemilihan waktu berangkatnya soalnya pemandangannya itu loh Hijau segar dimana mana dengan kabut tipis-tipis yang masih tersisa.. Sepanjang jalan Om sama bapak cerita ngalor ngidul nostalgia masa lalu waktu bapak masih suka jualan kayu antar pulau.. hihi Aku asyik aja menikmati pemandangan dari kursi belakang. Banyak banget pepohonan hijau yang bisa dilihat. Bapak pun cerita kalo kita bakal lewatin gunung menangis yang kabarnya sih dulu termasuk angker. Eh sampe di lokasi yang disebut gunung menangis yang dilihat bukan lagi gunung hijau menakutkan tapi gunung gundul yang hampir rata karena akan dibangun jalan. Sampe di Bontang kita langsung ke rumah kakek. Hal unik dari jalanan di Bontang adalah papan bertuliskan nama-nama Allah atau Asmaul Husna yang bisa dilihat sepanjang jalan. Katanya sih ada jumlahnya 99 sesuai ju...

Jelajah Borneo : Handil Muara Jawa

Setelah Tenggarong, sekarang kita berpindah ke kawasan tambang yang masih merupakan wilayah Kutai Kertanegara. Sebut saja Handil yang terletak di Kecamatan Muara Jawa. Jadi hampir sama dengan Samarinda aku juga dua kali ke Handil. Di daerah ini sangat banyak sepupu-sepupuku yang memang sebagian besar bekerja di perusahaan-perusahan yang ada disini. Sebut saja dua perusahaan besar yaitu Total dan Meindo. Dulunya setiap hari kita akan melihat ramainya karyawan dengan berbagai macam warna pakaian merah, orange, biru, ungu, hitam, pink lalu lalang untuk pergi ataupun pulang kerja. Ada yang berjalan kaki, naik sepeda ataupun motor. Pokoknya ramai deh. Tapi semenjak krisis menyerang wilayah kaltim, jumlah karyawan menurun drastis akibat pengurangan alias phk. Kos-kosan yang bertebaran disekitar perusahaan kebanyakan kosong tak berpenghuni. Pokoknya miris lah. Untung saja sebagian besar sepupuku masih bisa kerja. Mari berdoa supaya krisis bisa teratasi dan keadaan bisa stabil. Nah, diluar pe...

Jelajah Borneo : Tenggarong Kota Raja

Nah, dari Balikpapan ke Samarinda dan sekarang berpindah ke Kutai Kertanegara. Tau kan Kutai? Yup kerajaan Hindu pertama di Indonesia adalah Kerajaan Kutai. Nah karena kutai itu lumayan luas meski perjalananku sangat singkat (Kadang cuma numpang makan aja di suatu daerah), tapi aku ingin membaginya jadi 3 yaitu Tenggarong, Muara Jawa (Handil) dan Bontang. Lembuswana simbol Kutai Kartanegara Mari mulai di Tenggarong dimana bekas peninggalan kerajaan kutai kertanegara sangat terasa. Aku berangkat ke Tenggarong bersama Keluarga yang menjemput di Terminal Samarinda. Untuk ke Tenggarong sendiri hanya menempuh jarak 1 jam. Kesan pertama untuk Tenggarong keren, kotanya disusun dengan sangat baik. Meski dibangun menjadi kota modern tapi unsur sejarah yang melekat pada daerah ini tetap di pertahankan. Salah satunya adalah istana yang masih ada tentunya dengan raja yang menjadi simbolnya. Yang kedua adalah tempat favoritku kalo sedang keluar kota, bukan gunung ato pantai apalagi mall tapi M...

Jelajah Borneo : Samarinda Kota Tepian

Pintu Masuk Mahakam Lampion Garden Ada replika Pisa dan Eiffelnya  My Personal Guide a.k.a Sepupu Jadi pasca lebaran akhirnya punya kesempatan untuk keluar kota mengunjungi keluarga. Ada beberapa kota yang kukunjungi di Kaltim ini. Kota pertama adalah Samarinda, si ibukota provinsi Kaltim yang terletak di tepian sungai mahakam. Apa yang kuingat dari Samarinda dulunya adalah untuk ke sana harus memakai katinting (kapal) melewati sungai mahjiakam dari Handil, Muara Jawa. Ternyata sekarang sudah sangat jarang. Untuk ke Samarinda cukup gampang, karena tinggal di daerah kilo jadinya cukup tunggu mobil di jalan depan tanpa harus ke terminal terlebih dahulu. Aku berangkat bersama kakak di hari kedua lebaran. Dan benar saja, tepat saat kami keluar sudah ada bus samarinda yang akan lewat. Meski masih suasana lebaran tapi orang yang ke Samarinda lumayan banyak jadinya dapet tempat duduk dekat pintu depan yang menghadap ke samping. Tapi gak apa-apa masih bisa menikmati pemandan...

Jelajah Borneo : Balikpapan Kota Beriman part. 2

"Pengaruh Harga Tambang Terhadap Daya Beli Masyarakat di Pasar Balikpapan Permai" yang di atas itu bukan judul skripsi, bukan. aku bukan anak ekonomi. aku juga bukan mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. sudah bukan. yang diatas adalah selingan kisah yang akan kuceritakan dalam pengalamanku tinggal di Balikpapan. Selain ngurus anak (nasib pengangguran). sekali-kali aku juga ikut kakakku menjual di pasar (jangan tertawa, tidak ada yang salah dengan pasar). Jangan salah, kakakku berjualan pakaian anak-anak dengan branded-branded ternama kualitas original. Kami menjual mulai dari merk Gap, GW, L.Nice, HM dan Nak-Nak. Yang sering beli baju online pasti sudah akrab dengan merk-merk yang memang terkenal di kalangan anak-anak sejak dahulu kala. Kami menjual di pasar Balikpapan Permai yang lebih dikenal dengan BP. Kios jualan sendiri cukup strategis karena dekat dengan jalan masuk tepatnya dibelakang penjual emas. Luas kiosnya sendiri sekitar 3x2 meter. Kakakku sud...

Jelajah Borneo : Balikpapan Kota Beriman Part 1

Lagi menetap di Pulau Borneo, tepatnya di Balikpapan sampai waktu yang tidak ditentukan. Bukan untuk merantau cari kerja sih, cuma lagi dipanggil oleh kakak buat temenin. Tapi kalo rejeki dan tiba-tiba dapat kerja ya why not. Kenapa judulnya Jelajah Borneo, soalnya bukan cuma Balikpapan yang ingin dan akan aku kunjungi tapi juga kota kabupaten lain yang ada di salah satu pulau terbesar Indonesia ini yaitu Muara Jawa (Handil), Samarinda, Bontang dan Batu Licin (Semoga dapat panggilan dan ijin buat pergi). aamiin.. Cerita pertama di mulai di Balikpapan. Ini kali kedua aku ke kota ini, pertama kali 16 tahun yang lalu tepatnya tahun 2002 saat aku masih kelas 2 sd. Dulu perginya sama alm. mama dan keluarga yang lain untuk menghadiri pernikahan om. Perginya lewat Makassar naik kapal laut sehari semalam. Pulangnya juga naik kapal laut tapi lewat Parepare. Satu kejadian yang paling membekas saat pulang adalah ketika sudah di jemput dan menuju rumah dengan pete-pete (baca: angkot), kami malah...